Kesempatan Ketiga

Postingan ini udah lama banget menghuni draft di blogku, pengen publish tapi masih ragu. Tapi akhirnya hari ini keluar juga.

Semoga bisa menginspirasi, diambil hikmahnya 🙂

Ini adalah kesempatanku yang ketiga atau bahkan mungkin akan menjadi yang terakhir? Aku harap tidak begitu.

Seringkali aku mikir begitu, kalo keingetan beberapa tahun yang lalu. Selama aku hidup sampe sekarang ini aku pernah merasakan yang namanya di ambang kematian. Hanya saja aku belom sampe seperti mereka yang sempat nyambangin yang namanya Surga, ato karena memang aku gak pantas buat ke surga, bahkan untuk nyicipin surga aja gak boleh ama Allah.

Sekitar 10 tahun yang lalu, astaga… ternyata aku udah tua banget yah 😦 , aku kerja di café di Malang. Selain kerjaannya sebagai resepsionis tapi juga mabuk  mabukkin costumer *pis Mom, Pa*. Mungkin karena itulah akhirnya Allah menegurku dengan caranya. Di suatu siang, yang panas terik, kering kerontang, aku menggigil kedinginan, kepala sakit gak karuan. Sampe malemnya dibawa Mommy ke dokter, diagnosanya demam biasa, trus dikasih resep obat demam dan kembali pulang. Di rumah setelah minum obat itu bukannya sembuh tapi badan makin panas sementara aku menggigil, di botol kaca Mommy isi pake air panas untuk ngompres perutku biar gak kedinginan dan aku berselimut 3 lapis tapi tetep aja masih merasa dingin. Bahkan dipelukin Mommy dan Papa juga gak mempan, hingga akhirnya dibawa ke UGD. Sudah berada antara sadar dan gak sadar pas susternya meriksain aku, entah berapa lama aku di UGD akhirnya dipindah ke kamar sekitar subuh, seingatku. Mommy pulang untuk ngambil beberapa pakaian sementara bang Vhon nungguin aku. Pas aku batuk, langsung nyemprot dan muntah darah, bang Vhon langsung kaget, panik dan nyaris menangis. Aku cuma bisa bilang gak papa dan minta tempat karena aku masih aja batuk- batuk darah (bukan TBC loh). Setelah itu entah apa yang terjadi tiba- tiba aku ada di ICU, setiap hari mereka menguras isi perutku pake selang yang dimasukkan lewat tenggorokan. Entah berapa lama aku di ICU, yang kuingat cuma suara- suara sumbang di sekitarku pake baju abu- abu, sosok- sosok berbentuk gak jelas, menyodorkanku beer mug dengan tertawa mengejek riuh rendah. Sementara kata Mommy (setelah aku sembuh), banyak orang yang bacain aku surat Yasin waktu aku sakit itu. Aku gak tau sapa- sapa diantara mereka, yang jelas aku bersyukur banget udah mendoakan aku hingga aku bisa sehat kembali dan dapat kesempatan kedua dari Allah SWT. Dan herannya waktu aku sakit itu dokter gak pernah mengetahui secara jelas penyakit apa yang membuatku terbaring sekarat seperti itu. Apa itu karma? Karena pekerjaanku?

Di kesempatan kedua aku mencoba mulai hidup sehat, udah gak kerja malam lagi bahkan memulai hidup baru dengan eks suami di Samarinda, hingga akhirnya dia ketahuan berbuat serong ke kanan dan ke kiri. Hidup ngenes dan makan ati karena kelakuannya itu bikin aku gak doyan makan, setiap hari cuma makan buah dan buah. Kurus keriiing deh. Hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke Malang. Di Juanda airport, Surabaya untungnya aku dijemput Mommy tercinta dan seketika pingsan disana 😦

Di saat pingsan Mommy bilang aku sempat pamitan “Selamat tinggal Mom, selamat tinggal Pa”, dan mendadak Mommy tampar- tampar aku yang kebetulan lagi panas tinggi. Besoknya aku sudah dirujuk ke rumah sakit. Gak jelas pula untuk sakit apa, stress ato sakit hati. Yang jelas disana pula aku sempat tak sadarkan diri beberapa hari. Lagi- lagi Mommy ngumpulin sodara- sodara untuk mendoakan aku. Saat itu kembali Allah memberikan kesempatan untukku hidup kembali. Alhamdulillah diberi kesempatan untuk hidup, bertobat dan punya kesempatan untuk memperbaiki kehidupan dan inshaAllah bisa membahagiakan kedua orang tua yang terlalu sering aku kecewakan.

Di kesempatan ketiga masih juga ternyata aku mengecewakan orangtua yang akhirnya berujung kesedihan, hingga akhirnya tahun 2010 aku putuskan bahwa aku gak mau lagi membuat orangtuaku bersedih dan kecewa.

Dan hingga kini, alhamdulillah, semua yang dengan restu orangtua akan selalu berjalan lancar. Di kesempatan ketiga ini aku harap jadi kesempatan hidup yang bermakna bagiku, keluargaku dan semua orang yang aku cintai dan mencintaiku 🙂

Advertisements

14 thoughts on “Kesempatan Ketiga

  1. Pingback: Liebster Award yang telat | Cha in Hate 'n Love

  2. subhanalloh… hari ini dari pagi baca hal-hal yg bikin deg2an mulu: adik ipar yg ternyata pernah pingsan di jalan sepi ga ada orang, baru ditolongin setengah jam kemudian… lalu postingan ini…

    slameeet… slameeet… (bukan ngasih selamat mbak, iki ndonga biar selamat 😛 ) moga2 cukup 3 kali itu ya mbak… serem hare… >.<

  3. 😦 huwaaa
    mbak Cha yang kuat ya….
    Alhamdulillah Allah masih ngasih kesempatan mbak…
    duh pagi2 baca cerita ini langsung nyess di hati mbak 😥

mau komen juga boleh kok, silahkaaan... !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s