Sulitnya Hidup

Kehidupan nggak pernah ada yang mudah. Lain orang lain pula masalahnya. Aku nggak tahu, exactly, apa masalahmu, begitupun kamu. Kamu nggak akan tahu seberat apa masalahku. Mungkin bisa kita saling bercerita tentang apa masalah kita kepada orang lain, tapi itu hanya sebatas cerita. 1 dari 100 orang yang mendengarkan mungkin akan bersedia membantu. Bisa jadi kita lihat kehidupan si A nampak lebih baik dari kehidupan si B ternyata si A punya masalah yang lebih berat dari si B. Orang senyum bukan berarti mereka tak punya masalah, orang tertawa bukan berarti mereka sedang bahagia. Begitupun aku, pusing banget dah kalau masih tetap nggak berpenghasilan begini. Bukan karena aku tak berkecukupan hidup disini. Tapi aku ingin membantu keluargaku di Indonesia. Kasihan orang tuaku yang semenjak lama ingin sekali punya rumah sendiri, biar nggak disepelekan orang yang sombong dan nggak tahu terima kasih. Yah, meskipun kemarin pas di Indonesia aku kerja dan gaji nggak seberapa tapi setidaknya masih bisa makan enak dan tinggal di rumah yang lumayan nyaman. Sekarang ortu kembali ke Malang, ngontrak rumah sementara rumahnya kelihatannya aja bagus, begitu hujan eee langsung dah pada bocor lagi, dan pastinya butuh uang lagi … Dan inilah hal – hal yang ingin bantu untuk mereka.  Well, bener sih aku udah nikah dan Miku juga nggak keberatan untuk membantu, tapi selama ini Miku juga sudah bantu bulanan ortu yang tadinya adalah kewajibanku. Kalau orang bilang, ya emang seharusnya suami bantu istri untuk keluarga sang istri, tapi tidak buatku. Kalau memang aku sudah mampu, aku mau membantu ortuku dengan penghasilanku sendiri. Setidaknya begitulah caraku menghargai kerja keras suamiku.
Yang kini aku bangga adalah adikku, Aggie, begitu kerasnya dia bekerja di Samarinda, sendirian, ngekost, bayangkan betapa banyaknya biaya dikeluarkannya untuk ngekost di Samarinda yang rata – rata harga kamar kost 500 – 700 ribu rupiah per bulannya, belum juga makan per hari, bayar kreditan motor, bayar kuliahnya (Aggie melanjutkan kuliahnya dari D3 ke S1), bantu bulanan ortu, dan lain – lain. Sementara gajinya aja nggak nyampe 2 digit (baca: 10 juta ke atas), bahkan 5 juta aja nggak nyampe. Tapi dia berusaha menyanggupi apa segala permintaan Mommy. Aku cuma bisa prihatin dan menangis karena nggak bisa membantu lebih. Bersyukurlah orang yang diberi kesehatan , kekayaan dan kebahagiaan dan hidup berkecukupan. Asal jangan pernah lupa dengan kewajiban bersedekah atau berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Memang kehidupan nggak pernah mudah, tapi diantara kesulitan itu, jika kita terus berjuang dan selalu bersyukur maka kehidupan itu akan menjadi suatu perjalanan menuju kesuksesan yang INSHAALLAH nikmat.
Advertisements

mau komen juga boleh kok, silahkaaan... !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s