Sahabatku #2

 

Melanjutkan postingan tentang SAHABATKU beberapa bulan lalu, aku harap kalian masih ingat cerita itu, atau kalau nggak , silahkan klik aja SAHABATKU , mungkin kalian akan merasa sangat prihatin jika sudah mendengar cerita yang aku tulis disana. Tapi baca lagi tulisanku kali ini, kemudian aku ingin dengar apa opini kalian setelah itu. Begini ceritanya, setelah beberapa saat aku dan Galih chatting via BBM atau sekedar komen – komenan di FB, nostalgiaan suka – suka , dia lantas minta tolong ke aku agar membantu sedikit keuangan dia untuk membayar hutang pada orang – orang yang invest banyak untuk bisnisnya itu. Yang aku tahu -dari dia,tentunya- adalah bahwa uang sebanyak itu adalah uang investasi beberapa orang yang dipercayakan kepada Galih untuk dikelola dalam sebuah bisnis properti di Malang. Saat itu aku benar – benar tidak punya uang, karena untuk aku sendiri begitu banyak pengeluaran yang harus diperhitungkan, bentrok dengan jadwal pernikahan di Sweden dan kepulanganku ke Indonesia dalam waktu dekat itu. Tapi karena Galih adalah sahabatku dari kecil dan aku benar – benar prihatin atas keadaannya itu maka aku sangat berusaha agar bisa membantunya. Aku hubungi beberapa teman yang menurutku keuangannya bisa dikatakan lebih dan bisa membantu sedikit keluhan Galih. Dalam hal ini, Galih menjanjikan untuk join di bisnis laundrynya yang sedang berjalan dan mempunyai prospek bagus. Dengan join 20juta rupiah per tahun , investor mendapatkan 5juta rupiah per bulan dan akan langsung masuk ke dalam rekening tabungan investor setiap akhir bulan setelah tutup buku. Dan Galih juga berjanji akan selalu melaporkan perkembangan bisnis laundrynya itu per bulannya kepada investor.

Berdasarkan keseriusan yang tampak terlihat dari pembicaraan itu aku langsung forward semua hasil chatting kami itu kepada salah seorang temanku, Pak Ali *bukannamasebenarnya*. Sebenarnya Pak Ali kurang begitu berminat dengan bisnis – bisnis kecil seperti ini. Tapi karena memandang aku sebagai teman yang sudah dianggapnya seperti saudara dan aku juga meceritakan sedikit tentang yang dialami Galih, maka dianya ikut trenyuh juga. Lantas aku meminta Pak Ali agar memastikan bahwa bisnis itu bukanlah bisnis abu – abu sebelum dia menandatangani kontrak perjanjian dan menginvestkan uangnya untuk bisnis tersebut. Pak Alipun menyanggupi bertemu dengan Galih dan menyempatkan diri pula mendatangi tempat bisnis laundry itu. Tanda tangan kontrak terjadi , Galih memberi kabar ke aku dan mengatakan kalau beberapa hari lagi Pak Ali akan mentransfer uang investasi itu. Setelah beberapa hari, Pak Ali yang memberi kabar bahwa dia telah mentransfer uang tersebut, dan memang iya kata Galih uang itu telah dia terima. Great ! Akhirnya aku bisa membantu sedikit keuangan temanku.
Sehari dua hari aku dan Galih masih chatting dan berharap semoga bisnisnya ini berjalan lancar, karena aku tegaskan ke Galih bahwa jika bisnis ini lancar dan menguntungkan Pak Ali tidak akan sayang untuk menginvestasikan beberapa uang lagi untuk bisnis yang lain. Kemudian beberapa minggu setelah itu, aku coba menghubungi Galih, via BBM, SMS dan meneleponnya, tapi tak ada respon. Jantungku deg-degan, hatiku ketar – ketir, apa benar yang kukhawatirkan akan bakal terjadi ?  Hampir saatnya payment profit  pertama setelah perjanjian itu ditandatangi dan ternyata tak ada kabar berita. Damn ! Aku benar – benar dibodohi Galih, aku tahu hal tersebut setelah aku telepon ke rumahnya dan ibunya bilang kalau ada sesuatu tentang Galih yang pinjam uang , tolong jangan dikasih. Sudah banyak orang tertipu karena ternyata uangnya tidak ketahuan kemana larinya. OMG ! Rasanya sudah seperti dihantam godam. Aku berupaya bagaimana caranya agar Pak Ali sedikit bersabar setelah dia juga mencoba hubungi Galih tapi tetap tak ada juga kabar beritanya. Aku kecewa, marah dan sakit hati, segitu teganya sahabatku sendiri menipuku sebegitu rupa. Aku juga malu pada Pak Ali yang sudah percaya aku dan mengenalkan Galih padanya tapi mengakibatkan dia rugi sebegitu banyak , uang 20 juta bukanlah uang yang sedikit bagi beberapa orang, terutama buatku. Hingga tulisan ini aku buat (semenjak sekitar bulan July 2011), masih belum ada kabar berita dari Galih tentang kapan uang Pak Ali akan dikembalikan jika memang tidak ada kepastian seperti yang ada dalam perjanjian tersebut. Di FB, Twitter aku ungkapkan kekesalanku dengan updating status yang memperlihatkan betapa aku kecewa dan merasa tertipu. Yang lebih membuat aku kecewa, salah seorang anggota keluarganya mengatakan bahwa semoga aku tidak membuat fitnah dengan mengatakan bahwa aku telah ditipu Galih. Well, i dont know what i’ve done. Aku sudah mencoba berbuat baik dan semampu aku membantu Galih. tapi beginilah balasannya. Bahkan orang baik seperti Pak Alipun kena getahnya. Tak ada kabar berita dan menghilang, menghindari semua telepon dan SMS dariku. Paling tidak jika memang dia serius untuk menjalankan bisnisnya, dia seharusnya memberikan informasi sedikit, Bangkrut kek atau bagaimanalah. Bukannya seperti ini. Aku benar – benar kapok dan merasa sangat bodooooh. Semoga dari kalian tidak ada yang mengalami kejadian seperti yang aku alami ini. Sangat sakit rasanya hati ini. Aku sendiri nggak pernah tahu apakah aku bisa memaafkan Galih di kemudian hari ?  Sahabat yang sedari kecil, tinggal di belakang rumahku, kemana – mana selalu berdua. Ternyata aku tidak sepenuhnya mengenal siapa sahabatku itu. Betapa bodohnya aku !
Advertisements

mau komen juga boleh kok, silahkaaan... !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s